Kamis, 02 Juni 2011

Kisah Harut dan Marut

Alfaqih Warsono

Berikut ini adalah sebuah kisah Malaikat Harut dan Marut yang banyak diceritakan oleh orang-orang ingin merendahkan kedudukan malaikat-malaikat Allah (yang merupakan utusanNya). Sebelum Anda membaca dan meyakini kisah menyesatkan ini, ada baiknya Anda merujuk kepada sumber-sumber yang rajih (terpercaya, kredibel). Perlu diketahui kisah ini tidak terdapat dalam satu dasar pun dalam kitab-kitab Islam. Hadis yang disandarkan di sini adalah hadis Maudlu' (palsu). Berikut kisah sesatnya:


Diriwayatkan oleh Abi Hatim dari Assham Bin Rawwad, dari Adam, dari Abi Ja'far, dari Qais Ubaid, dari Ibnu Abbas r.a. berkata Ibnu Abbas:
"Semakin lama makin banyak juga manusia anak cucu Adam di permukaan bumi ini. Dan semakin banyak pula kerusakan dam maksiat yg mereka lakukan. Diantaranya mereka kafir terhadap Allah . Melihat kejadian itu para Malaikat dilangit lalu berkata kepada Allah :
Ya Tuhanku, alam yg Engkau ciptakan untuk tempat berbakti dan beribadat terhadap Engkau, sudah dijadikan oleh manusia menjadi tempat maksiat (mengingkari) ajaranEngkau, mereka saling membunuh, berzina, berjudi, mencuri dan minum minuman keras, serta memakan harta anak yatim dan mengkafirkan Engkau ya Tuhanku"

Kepada para Malaikat diperintahkan oleh Allh untuk memilih dua Malaikat, lalu mereka memilih Malaikat Harut dan Marut, kedua malaikat itu lalu diutus untuk turun kebumi. Kepada kedua Malaikat itu, Allah membangkitkan semua hawa nafsu seperti layaknya manusia keturunan Adam dan Hawa. Kepada kedua Malaikat ini diperintahkan oleh Allah agar beribadat dan mematuhi perintah Allah, dan jangan mempersekutukan Tuhan, kepada keduanya, Allah melarang agar jangan saling membunuh, memakan makanan haram, berzina, mencuri dan minum minuman yg memabokkan. Kedua Malaikat itu lalu turun kebumi dan tinggal untuk beberapa lama, menghukum antara yg haq, yaitu dizaman Nabi Idris a.s.

Dikala itu ada seorang wanita yg kecantikannya ditengah wanita wanita sebagai venus (bintang kejora) ditengah segala bintang, kedua Malaikat itu lalu mendatangi wanita itu, mulai merayu untuk menyerahkan kehormatannya. Wanita itu menolak, kecuali keduanya itu mau menganut agama yg dianutnya. Kedua Malaikat itu lalu menanyakan agama apa yg dianut wanita itu, wanita itu lalu mengeluarkan berhala (patung) dan berkata: inilah yg aku sembah. Kedua Malaikat itu menjawab: Kami tidak ada keinginan menyembah patung itu, lalu keduanya pergi dengan sedih. Kemudian kembali keduanya mendatangi wanita itu dengan maksud yg sama, yg juga dijawab dengan jawaban seperti waktu pertama tadi. Sehingga keduanya kembali dengan hampa, dan demikian pula kali yg ketiganya.
Karena keduanya tidak mau menyembah berhala, maka wanita itu menyuruh pilih 1 diantara 3 perkara yaitu:
1. Menyembah berhala.
2. Membunuh
3. minum tuak.

Keduanya berfikir bahwa pertama dan kedua tidak pantas, yg lebih ringan dosanya adalah minum tuak. Lalu kedua Malaikat itu minum tuak, dan baru baru saja keduanya minum tuak itu, keduanya menjadi mabok, lalu melakukan hubungan intim (enak gila) dengan wanita itu. Dan karena keduanya takut bahwa wanita itu akan menceritakana pelanggaran berat kepada orang banyak, lalu kedua Malaikat itu membunuh wanita yg itu.

Setelah kedua Malaikat itu sembuh dari maboknya, dan menyadari bahwa keduanya sudah melakukan dosa dosa yg amat berat, begitu kedua Malaikat itu mau naik ke langit, tetapi sudah tidak sanggup, sebab antara langit dan bumi dipasang tutup untuk keduanya.
Melihat kejadian itu, sadarlah seluruh Malaikat yg ada dilangit, bahwa manusia yg tidak kenal alam gaib pantas tidak takut berbuat dosa, sehingga para Malaikat dapat mengerti kalo banyak manusia yg berbuat dosa.

Sejak saat itu seluruh Malaikat dilangit, disamping memuji Allah, mereka slalu berdoa agar Allah sudi kiranya mengampuni dosa dosa manusia yg beriman yg tinggal dibumi ini.
Terhadap kedua Malaikat yg dijadikan percobaan itu, oleh Allah disuruh pilih menjalani siksa dunia atau siksa akhirat. Lalu keduanya memilih siksa dunia, karena dunia ini tidak kekal. Sedangkan siksa akhirat adalah siksa yg kekal, begitulah kedua malaikat itu disiksa oleh Allah didunia, dan bebas dari siksa diakhirat kelak.

Akhirnya banyak manusia yg mendatangi kedua Malaikat itu untuk mempelajari ilmu sihir yg dapat mecerai beraikan antara suami isteri. Kedua Malaikat itu tak lupa menerangkan kepada orang banyak, bahwa ilmu sihir itu adalah sebagai (fitnah) bagi mereka, dan tidak akan berbarti apa apa kecuali degan izin Allah, dan pasti mendatangkan kerusakan semata. Sekalipun begitu, masih banyak saja manusia yg ingin mempelajarinya yg terang terangan tidak manfaat dan malah akan mendapatkan siksa yg amat berat diakhirat kelak.

ALLAH swt Berfirman:
"Dan mereka (yahudi) mengikuti apa yg diceritakan oleh setan setan tentang kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak kufur, hanya setan setan itu yg kufur. Mereka ajarkan ilmu sihir kepada manusia, dan ilmu yg diturunkan kepada 2 Malaikat di Babil, bernama Harut dan Marut, padahal keduanya tidak mengajarkan melainkan berkata: Kami tidak lain melainkan percobaan, sebab itu janganlah engkau kufur. Tetapi tetap mereka (yahudi) belajar dari kedua Malaikat itu (ilmu) buat menceraikan antara suami dan isteri, dan mereka tidak membahayakan seseorang melainkan dengan izin Allah. Tetapi mereka telah mempelajari apa yg membahayakan mereka dan tidak memberikan manfaat kepada mereka padahal mereka itu tahu, bahwasanya orang yg menggunakan sihir itu tidak mendapatkan kebahagiaan yg baik diakhirat kelak, dan alangkah busuknya suatu harga yg denganya mereka jual akan diri mereka, jika mereka mengetahui" (al-Baqarah : 102)
Ayat tersebut membantah tuduhan yahudi yg mengatakan bahwa Nabi Sulaiman lah yg pertama mengajarkan ilmu sihir, tetapi yg sebenarnya adalah setan setanlah yg mengajarkan sihir itu. Kemudian mereka sekali lagi dicobai melalui Malaikat Harut dan Marut. Tetap saja mereka mempelajari ilmu sihir kepada ke dua Malaikat itu, sekalipun kedua Malaikat itu telah memperingatkan bahwa sihir itu adalah cobaan agar mereka jangan melanggar dengan mempelajarinya, namun mereka tetap mempelajarinya.

 
Ulasan 

Harut dan Marut (Bahasa Arab: هاروت وماروت, transliterasi: Hārūt dan Mārūt) adalah dua malaikat yang diutus oleh Allah ke negeri Babilonia. Nama mereka disebutkan di dalam Al Qur'an pada surat Al Baqarah ayat 102:
"Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir." Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (Al Baqarah 102)
Para mufassirin berlainan pendapat tentang yang dimaksud dengan 2 orang malaikat itu. Ada yang berpendapat, mereka betul-betul Malaikat dan ada pula yang berpendapat orang yang dipandang saleh seperti Malaikat dan ada pula yang berpendapat dua orang jahat yang pura-pura saleh seperti Malaikat.

Bantahan kisah Harut dan Marut

Syeikh Athiyah Saqar menyebutkan bahwa di beberapa buku tafsir disebutkan kedua malaikat itu telah diturunkan ke bumi sebagai fitnah sehingga Allah mengadzab mereka berdua dengan menggantung kedua kaki mereka, perkataan para mufassir ini bukanlah sebagai salah satu hujjah (dalil) dalam hal ini, karena kisah tersebut berasal dari warisan masyarakat Babilonia dan penjelasan orang-orang Yahudi serta kitab-kitab Nasrani. Karena tidak sesuai dengan salah satu ayat di dalam Al Qur'an. Para malaikat tidaklah maksiat kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan mereka pun melakukan apa-apa yang diperintahkan-Nya, firman Allah:
بَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُونَ ، لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُم بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ
"Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.” (Al Anbiya 26 – 27)

 وَمَنْ عِندَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ ، يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ
"Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih.Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (Al Anbiya 19 – 20)
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa yang mengatakan bahwa kedua malaikat itu mengajarkan kepada manusia tentang peringatan terhadap sihir bukan mengajarkan untuk mengajak mereka melakukan sihir. Az Zajjaj mengatakan bahwa perkataan itu adalah juga pendapat kebanyakan ahli bahasa. Artinya bahwa pengajaran kedua malaikat itu kepada manusia adalah berupa larangan, keduanya mengatakan kepada mereka, "Janganlah kalian melakukan ini (sihir) dan janganlah kalian diperdaya dengannya sehingga kalian memisahkan seorang suami dari isterinya dan apa yang diturunkan kepada mereka berdua adalah berupa larangan."[1]
Al Hafidz bin Katsir berkata: "Kisah Harut dan Marut ini diriwayatkan dari beberapa tabi'in seperti Mujahid, Suddi, Hasan al Bashri, Qotadah, Abul Aliyah, Zuhri, Rabi' bin Anas, Muqotil bin Hayyan dan lain-lain dan dibawakan oleh banyak penulis tafsir dari kalangan terdahulu dan belakangan. Kesimpulan detail dari kisah Harut dan Marut ini kembali kepada kisah Israilliyat, karena riwayatnya tidak ada sama sekali dalam hadis marfu' yang bersambung sanadnya dari Nabi Muhammad.
Al Hafidz bin Hazm berkata: "Di antara bukti-bukti yang menunjukkan kebathilan kisah Harut dan Marut ada di dalam salah satu firman Allah:
مَا نُنَزِّلُ الْمَلائِكَةَ إِلاَّ بِالحَقِّ وَمَا كَانُواْ إِذاً مُّنظَرِينَ
"Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan benar (untuk membawa azab) dan tiadalah mereka ketika itu diberi tangguh. (Al Hijr 8)


Kisah Harut dan Marut

Kisah Harut dan Marut yang kononnya telah meminum arak seterusnya kufur kepada ALLAH swt adalah kisah dusta. Kisah ini disebut di dalam sebahagian kitab ketika menafsirkan ayat 102 dari surah al-Baqarah. Dr. Mohammad bin Muhammad Abu Syahbah di dalam bukunya "al-Israiliyyat wa al-Maudhu'aat fi Kutub al-Tafsir" (Kisah-kisah Israiliyyat dan palsu di dalam kitab-kitab tafsir) menyenaraikan kisah tersebut sebagai salah satu daripada kisah-kisah Israiliyyat (dari orang-orang Yahudi) yang termasuk ke dalam kitab-kitab umat Islam.


Beliau menyenaraikan beberapa ulama yang menghukum kisah tersebut sebagai palsu, antaranya al-Imam Abu al-Farj bin al-Jauzi, al-Syihab al-'Iraqi sehingga beliau mengatakan:



"Siapa yang beri'tiqad dalam kisah Harut dan Marut bahawasanya mereka berdua adalah malaikat yang diazab atas kesalahan mereka, maka orang itu kafir terhadap ALLAH yang maha agung."
.

Demikian juga yang menolak kisah ini ialah al-Imam al-Qadhi 'Iyadh, al-Hafidz 'Imaduddin Ibn Kathir dan lain-lain.

Di dalam kisah asal cerita tersebut terdapat dailog yang menunjukkan dua malaikat tersebut membantah pengkhabaran ALLAH. Ketika ALLAH berkata kepada mereka: "Kalaulah aku uji kamu berdua dengan apa yang aku uji terhadap Bani Adam, pasti kamu berdua akan bermaksiat kepadaku." Lalu riwayat tersebut menyebut kononnya dua malaikat itu menjawab: "Kalaulah kamu lakukan kepada kami (dengan ujian tersebut) wahai tuhan, kami tidak akan menderhakai Mu."

Ungkapan ini menunjukkan bahawa dua malaikat ini telah membantah perkhabaran ALLAH swt. Perkara ini berlawanan dengan ayat al-Quran yang menceritakan sifat malaikat yang tidak menderhakai ALLAH dan sentiasa mematuhi arahanNYA.

ALLAH berfirman di dalam al-Quran QS At Tahrim [66]: 6

لاَ يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Maksudnya : "(Mereka para Malaikat) tidak menderhakai ALLAH atas apa yang diarahkan kepada mereka, dan mereka lakukan apa yang disuruh kepada mereka."

Membantah perkhabaran ALLAH adalah besar kesalahannya, ia boleh membawa kepada kafir. Ini adalah perkara yang mustahil dan berlawanan dengan sifat Malaikat yang disebut di dalam al-Quran.
Kerana itu para ulama Hadith menolak dan menjelaskan bahayanya mempercayai cerita-cerita seumpama di atas.


Dr. Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah di dalam bukunya tersebut telah menyebut tafsir yang sebenarnya terhadap ayat 102 dari surah al-Baqarah yang menyebut tentang Harut dan Marut itu. Sebenarnya sebab yang membawa turunnya ayat tersebut ialah apabila Syaitan-syaitan pada ketika dahulu boleh mencuri mendengar berita dari langit. Lalu mereka sampaikannya beserta tambahan kepada pendusta-pendusta yang terdiri daripada para dukun dan bomoh Yahudi yang menulisnya di dalam kitab-kitab mereka, lalu mereka mengajarkannya kepada manusia. Sehinggalah pada zaman Nabi Sulaiman orang menganggap ilmu tersebut adalah dari Nabi Sulaiman. Lalu pendeta-pendeta Yahudi mendakwa dengan ilmu tersebutlah Nabi sulaiman dapat menundukkan insan, jin dan angin yang mengikut perintahnya. Inilah perangai Yahudi yang sentiasa mempersendakan para Nabi as dengan pembohongan-pembohongan mereka. Kerana itu ALLAH berfirman:

وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَـكِنَّ الشَّيْاطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

Maksudnya : "Dan tidaklah Sulaiman itu kafir, akan tetapi para syaitanlah yang kafir, mereka mengajarkan manusia akan sihir." (al-Baqarah - 102)

Lalu sambungan ayat di atas ALLAH berfirman :

وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ

Maksudnya :
“dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun”

Yang dimaksudkan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di dalam ayat tersebut ialah ilmu sihir yang diturunkan melalui mereka supaya mereka ajarkan kepada manusia bertujuan untuk manusia dapat membedakan antara sihir dan mukjizat Nabi Sulaiman. Maka apa yang berlaku kepada Nabi Sulaiman itu bukanlah sihir akan tetapi mukjizat kenabian daripara ALLAH swt. Dua malaikat tersebut itulah Harut dan Marut telah mengingatkan manusia terhadap sihir tersebut, ALLAH berfirman :


وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتىَّ يَقُوْلاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ

Maksudnya : "Dan tidaklah  mereka berdua (Harut dan Marut) mengajarkan seseorang manusiapun melainkan mereka berdua berkata : "Sesungguhnya kami ujian (atas kamu semua), maka janganlah kamu kafir."

Inilah secara ringkas yang dijelaskan dalam QS Al baqarah [2]:102. Secara jelas Harut dan marut ternyata tidak ada kaitan langsung dengan kisah dua Malikat yang kufur dengan ALLAH. Disini sekaligus menunjukkan betapa berbedanya penafsiran yang benar dengan cerita-cerita Israiliyyat kaum Yahudi sebagaimana diceritakan di awal ini. Semoga ALLAH menjauhkan kita dari tipu daya mereka.
Amiin

Rujukan : 

http://tafakur.xtgem.com/harut, http://www.mail-archive.com/hidayahnet@yahoogroups.com/msg07015.html
Al Quran al kariem, versi Quran Player.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

You can give only good comments to what interest you