Kamis, 02 Juni 2011

Beriman dan Berilmu

Al Faqih Warsono

Dewasa ini di zaman kontemporer yang konon dikatakan modern, ilmu sangat dibutuhkan manusia dalam rangka memakmurkan bumi sebagai penanggung amanat yang pernah ditawarkan Allah SWT.

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً ﴿٧٢﴾

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS Al Ahzab [33]: 72)

Manusia wajib memiliki ilmu, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat, tidak ada dikotomi pada keduanya, melainkan harus terjadi sinergi. Hal ini senada dengan sabda Nabi SAW:

مَنْ اَرَادَ الدُّنْيَافَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَ مَنْ اَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَ مَنْ اَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ.

Barangsiapa yang menginginkan (sukses) hidup di dunia maka haruslah ia (memiliki) ilmu, barangsiapa yang menginginkan (sukses) hidup di akhirat maka haruslah ia (memiliki) ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan (sukses) hidup di dunia dan akhirat maka haruslah ia (memiliki) ilmu.

Namun perlu diketahui dan disadari bahwa ilmu yang membuat manusia memenuhi harapannya dalam kehidupan yang nyaman akan menemui ketimpangan ketika tidak didasari iman yang mantap. Oleh karenanya Allah lebih mendahulukan “iman” daripada “ilmu” dalam firmanNya, meskipun keduanya sangat ditinggikan derajatnya oleh Allah. Simak saja firmanNya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Mujadalah [58]:11)

Orang yang memiliki ilmu yang tinggi, gelar yang panjang, kedudukan yang tinggi dalam strata social, ketika mengabaikan iman, niscaya akan berani melanggar rambu-rambu syari’at agama. Ilmunya dipakai untuk membodohi orang lain yang memang sudah bodoh, tanpa khawatir akan ancaman Allah SWT.

Para karyawan, kalau tidak disebut pegawai, pejabat dan sejenisnya, baik di lembaga-lembaga pemerintah maupun di lembaga lain semisal yayasan, baik umum maupun yang berbau agama, berani melakukan “risyah” (suap). Mereka, karena awamnya iman, meskipun mereka tidak mau dikatan awam iman karena bahkan ada yang sudah ber-haji ke tanah suci, tidak sungkan-sungkan menerima suap itu, bahkan ada yang marah jika tidak ada suap. Mereka tidak yakin dengan ancaman Rasulullah bahwa

اَلرَّاشِيْ وَالْمُرْتَشِيْ فِي النَّارِ.

“orang yang menyuap dan orang yang disuap semuanya akan menjadi penghuni neraka”. Mereka seakan pasti masuk surga karena telah melaksanakan semua rukun islam. Itulah salah satu bentuk jahiliyah mereka di jaman modern ini.

Demikian pula ketika manusia mengabaikan “ilmu” demi mengejar keutuhan iman yang mantap kepada Allah semata. Ia akan sulit mencapai ma’rifat (berkenalan) dengan Allah karena ia hanya percaya sepenuh hati (sami’na wa atho’na) (kami dengar dan kami patuh) tanpa mengetahui bagaimana beribadah yang baik guna mendapatkan kualitas iman dan taqwanya. Bahkan dikhawatirkan, karena bodohnya, ia menganggap apa yang ia lakukan meskipun sebenarnya menyekutukan dan melawan Allah, ia lakukan pula. Na’udzu billah. Sebagai contoh, masih banyak orang yang rajin sholat lima waktu karena ia takut akan siksa jika ia berani meinggalkannya, namun ia juga berani menyembah syetan dengan menyediakan sesuguhan (makanan untuk syetan), membakar kemenyan disekitar pedaringan (wadah beras) agar tidak kurang pangan bagi keluarganya, menyediakan persembahan untuk dewa/penghuni kuburan/pengguasa laut atau apapun nama dan bentuknya. Mereka tidak tahu bahwa itu melawan Allah, ya itulah karena minimnya ilmu.

Oleh karena tidak punya ilmu ibadat, sholat mereka rusak meskipun ia tidak merasa rusak sholatnya, puasanya batal meski tamat satu bulan, zakatnya tidak diqobul meski sudah bayar karena tidak sesuai dengan syari’at, hajinya mardud (ditolak) meski sudah mengahbiskan jutaan rupiah.

Oleh sebab itu, hendaknya “ilmu” dan ‘iman” wajib” dimiliki, dihayati, disadari dan diamalkan dalam semua segi kehidupan. Insya Allah selamat dunia akhirat. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

You can give only good comments to what interest you