Minggu, 14 Februari 2010

Makan Untuk Hidup atau Hidup Untuk Makan

Oleh : Nono Warsono

a. Makan Untuk Hidup

Kasus ini terdengarnya klise atau paling tidak "sudah basi", namun sebenarnya hal ini sangat penting untuk kita cermati. Mengapa? Bukankah istilah "hidup" dan "makan" keduanya sangat erat dengan kehidupan kita manusia? Ini yang kebanyakan orang melupakan akan esensinya. Kedua istilah ini jelas berbeda, akan tetapi pun saling keterkaitan satu sama lainnya. Kita lihat, orang yang hidup, pasti memerlukan makan--termasuk minum. Demikian pula makhluak lain selain manusia, semisal tumbuhan dan hewan. Itulah satu dari sekian banyak ciri makhluk hidup. Manusia yang hdiup kemudian ia tidak makan, kecuali dalam beberapa hari, akan berkurang asupan gizi dan vitaminnya, kelaulah ia masih bisa hidup. Namun kebanyakan akan mati dalam beberapa hari dan bulan berikutnya. Kalau seandainya orang dapat hidup berbulan-bulan tanpa makanan yang memang disengaja, dalam agama Islam, itu jelas dilarang dan haram hukumnya, sebab orang itu berbuat hendak menyamai kekuasaan Tuhan.

Karena manusia perlu makan untuk mempertahankan hidupnya, maka ia wajib bekerja. Namun berkerja di sini adalah dituntut yang halal. Sebab jika yang dimakan adalah barang halal, berarti barang itu dan pekerjaannya adalah barokah, berarti pula hidupnya "penuh dengan keberkahan".

Jika manusia mampu mempertahankan hidupnya dengan nyaman, maka akan berdampak positif pula pada segi peribadatan kepada Tuhan Allah. Jadi makan untuk bisa hidup sebagai syarat kita bisa beribadah kepada Allah jelas diperintah dalam Islam. Bahkan hendak melakukan ibadah sholat, misalnya, jika kita belum makan dan sementara makanan sudah siap, maka kita diperintah untuk makan terlebih dahulu dari pada melakukan sholat. Mengapa? Karena sholat di kala lapar dan makanan tersedia akan membuat ibadah sholat itu sendiri tidak akan khusyu', yang berarti kita sholat dhohir, sementara ruh kita tidak hadir di sholat tersebut. Allah berfirman dalam Al Quran surat (Al baqarah : 45)
وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ [البقرة : 45]
("minta tolonglah kamu kepada Allah dengan berlaku sabar dan mendirikan sholat, sesungguhnya sholat itu terasa berat dilakukan keculai oleh orang yang khusyu").

b. Hidup Untuk Makan

Ungkapan di atas akan terasa dan terurai, baik secara tekstual maupun kontekstual, berkonotasi negatif. Tetapi inipun tidak seluruhnya benar. Hidup untuk makan juga memiliki unsur kebenaran. Sebagaimana dikemukakan di atas, bahwa secara alami manusia, termasuk makhluk hidup lainnya, hidup untuk bisa makan sebgai faktor penyebab hidup. Tanpa hidup ia tidak akan bisa makan, yang berakibat segala macam makanan yang disediakan Allah akan sia-sia, padahal apa yang diciptakanNya tidak ada yang sia-sia. Allah berfirman :
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ [آل عمران : 191]
(orang-orang yang mengingat Allah sembari berdiri, duduk, dan berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan Allah pada langit dan bumi, mereka berkata: ya Tuhan tidaklah Engkau menciptakan ini semua sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari adzab neraka) QS. ALi Imran: 191.

Namun perlu diperhatikan bahwa orang hidup bukan semata-mata untuk hanya makan dan makan. Tidak peduli dengan segala urusannya dalam hidup di dunia yang sementara ini. Tidak peduli dengan segala bentuk ibadah, baik ilahiyah maupun sosial. Hanya untuk makan saja? Hidup untuk makan diperbolehkan sebatas menyokong pelaksanaan tugasnya di bumi (dunia). Ingat tugas utama manusia diciptakan adalah untuk beribadah (mahdhoh dan ghoir mahdhoh).
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ [الذاريات : 56]
(Tidaklah Aku (kata Allah)menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu) (QS Ad Dzariyat: 56)

Ketika kita menggunakan "Hidup untuk makan" dalam kelakuan kita tanpa mengindahkan tugas utamanya, sama halnya dengan "ulat" yang ketika terjaga matanya yang dipikirkan dan dilakukan hanya makan dedaunan. Atau belatung yang terus memakan bangkai. Alangkah jijiknya.

Maka sebagai makhluk yang berperadaban, berkebudayaan positif dan berbudi pekerti luhur, akan memandang "makan" sebagai sarana penyempurna dan penyokong hidup dalam beribadah, baik menyembah Allah (sholat) ataupun bermuamalat dan bermasyarakat.***




To:
makalah
puisi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

You can give only good comments to what interest you