Jumat, 29 April 2016

CARA MENGATUR ARAH DAN HURUF ARAB-LATIN DI MS OFFICE 2007


Alfaqih Warsono

Meskipun computer sudah diset Arabic-enabled (dengan MUI Arabic), terkadang kita keulitan ketika mengetik teks yang meliputi font Indonesia/Latin dan Inggris secara bergantian. Terpaksa harus menggunakan mouse untuk mengklik font dan arah pengetikan (cukup merepotkan) secara berulang-ulang. Namun jangan khawatir, Alfaqih W punya cara mengatasinya.
1.   Pastikan computer sudah di-instal Arabic.
2.   Buka Ms Word (pada Ms Office 2007)
3.   Pada bagian ribbon, klik Font Dialog Box

atau tekan ctrl+D di keyboard, maka akan muncul kotak dialog

Pada Latin Text, isilah dengan font jenis teks Latin Standar Reguler (Bookman Old Style, Times New Roman, atau Cambria) dengan ukuran 12 poin. Sedangkan pada Complex Script, isilah dengan font jenis teks Traditional Arabic (jika tidak ditemukan artinya Sistem Arabic belum terinstal di computer ini).
4.   Klik tab Default… (untuk menyetel agar setingan tersebut berlaku seterusnya).
5.   Setting di atas (yang baru di-set tsb), baru bisa digunakan untuk mengatur arah pengetikan kanan/kiri saja)
Coba tekan Shift+Ctrl bersamaan di keyboard sebelah kiri, maka kursor (akan berada di dekat margin kiri halaman), coba tekan lagi Shift+Ctrl bersamaan di keyboard sebelah kanan), maka kursor (akan berada di dekat margin kanan halaman).
Namun demikian Huruf Arab belum bisa diketikkan meskipun kursor berada di sebelah kanan. Untuk menjalankannya ikuti langkah 6 di bawah.
6.   Untuk memunculkan font Arabic, tekan Shift+Alt bersamaan, perhatikan jenis font, misalnya muncul Bookman Old Style (hasil setting awal), coba tekan Shift+Alt bersamaan, perhatikan jenis font, maka akan berganti menjadi font Traditional Arabic. Pada posisi ini, Anda dapat langsung mengetik Arabic (huruf Arab).
7.   Contoh penggunaan:
-      (ketik teks Indonesia, misal: [tiada Tuhan selain], tekan Shift+Ctrl di kanan keyboard, tekan Shift+Alt, tekan spasi di keyboard, tekan End di keyboard, ketik teks Arabic, misl [ الله ] , tekan Shift+Ctrl di kiri keyboard lagi untuk mengetik teks Indonesia lagi, tekan spasi di keyboard, tekan End di keyboard, ketik: [dan Nabi] , tekan Shift+Ctrl di kanan keyboard, tekan Shift+Alt, tekan spasi di keyboard, tekan End di keyboard, ketik teks Arabic, misl [محمد] ,  tekan Shift+Ctrl di kiri keyboard lagi untuk mengetik teks Indonesia lagi, tekan spasi di keyboard, tekan End di keyboard, ketik: [utusan] , tekan Shift+Ctrl di kanan keyboard, tekan Shift+Alt, tekan spasi di keyboard, tekan End di keyboard, ketik teks Arabic, misl [الله  ] lagi.
-      Hasilnya :
tiada Tuhan selain الله dan Nabi محمد utusan الله  


Jumat, 11 Januari 2013

TUTORIAL MENCETAK (PRINTING) DENGAN PRINTER EPSON T13 BAGI PEMULA

Alfaqih Warsono



Gbr 1





Bagi Anda yang kebetulan akan mencetak data/dokumen menggunakan printer Epson T13, terutama bagi pemula mungkin memerlukan tutorial (penjelasan penggunaannya). Berikut Alfaqih sajikan, semoga bermanfaat.

1.   Pada lembar dokumen/data yang akan dicetak, Anda dapat membuka aplikasi printernya dengan meng-klik menu File-Print... atau menggunakan kunci pintas dengan menekan Ctrl+P pada keyboard, maka tampilan printing akan muncuk seperti gambar di atas (Gbr 1). Jika Anda mengklik ikon di standard Formating (di bagian atas window), maka printer akan mencetak secara otomatis (default printer) tanpa pengaturan yang Anda inginkan (tidak menggunakan tampilan seperti  gambar di atas). Pastikan nama printer menggunakan EPSON T13, jika dalam komputer Anda terinstal beberapa printer, pilih namanya melalui drop-down dari Name (lihat lingkaran No.1)

2.   Pada Print Range (lingkaran No. 2), jika Anda memilih All, maka komputer akan mencetak semua halaman dokumen/data. Jika Anda akan mencetak beberapa halaman saja, pilih Page(s), misalnya Pages : 5 to 9,  komputer akan mencetak halaman 5 sampai halaman 9.

3.   Pada bagian Print What (lingkaran No. 3), biarkan Active sheet(s) terpilih yang berarti bahwa yang akan dicetak adalah halaman dari setiap sheet aktif.

4.   Pada bagian Copies (lingkaran No. 4), masukkan jumlah halaman yang akan dicetak, misalnya Anda ankan mencetak halaman 5 sebanyak 3 lembar, maka masukkan angka 3 pada Number of copies.

5.         Jika Anda ingin melihat tampilan halaman yang akan dicetak sebelum dicetak, klik tab Preview (lingkaran No. 5), maka akan muncul tampilan Print preview, seperti 



Gbr. 2

catatan :
tab ZOOM (untuk memperbesar objek pada halaman)
tab PRINT (untuk menampilkan Printer seperti  Gbr. 1 di atas)
tab SETUP… (untuk menampilkan page setup/ setting halaman cetak)
tab MARGINS (untuk menampilkan dan menyunting margin)
tab (PAGE BREAK PREVIEW (menampilkan halaman Page Break)
tab BLOSE (untuk keluar dari tampilan PRINT PREVIEW)

6.         Jika Anda ingin menyunting setingan cetak, klik tab Properties… (lingkaran No. 6), maka komputer akan menampilkan Print Properties sebagai berikut:
 

Gbr 3

Jika Anda akan mencetak data, maka pada Quality Option gunakan pilihan kualitas Text saja, jika data disertai gambar maka pilih Text & Image, jika akan mencetak foto pilih Photo atau Best Photo.

Yang dianggap penting adalah bagian Paper Options, pada drop-down Size, tentukan jenis kertas yang akan digunakan, jika TIDAK diatur maka komputer akan menggunakan default-nya yaitu kertas ukuran A4, perhatikan gambar di bawah ini












Gbr 4

Jika Anda akan mencetak dengan ukuran kertas HVS, maka Anda harus memilih USER DEFINED untuk mengatur ukurannya.
  

 

Gbr 5

Catatan: kertas HVS berukuran 21,59 cm x 33 cm. Jika menggunakan Unit 0.01 cm, maka Anda harus mengatur pada Paper Width : 2159, dan pada Paper Height : 3300.
Jika Anda ingin halaman dicetak mulai dari halaman terakhir, maka pada Print Option pilih Reverse Order. Jika Anda ingin agar teks dicetak tidak menggunakan tinta berwarna tetapi warna Hitam-Putih, maka pilih Grayscale.

Pada Orientation menunjukkan orentasi halaman kertas yang akan dicetak, Portrait berarti kertas posisi tegak, dan Landscape berarti kertas posisi menyamping. Lalu klik OK

Jika Anda ingin membersihkan hardware Print Head (biasanya karena tampilan cetak tidak maksimal atau hasil cetak tidak jelas/kotor, maka Anda perlu melakaukan pemeliharaan printer dengan cara memilih tab Maintenance seperti  


 


Gbr 6

Pilih Head Cleaning untuk membersihkan head printer (bagian pencetak) yang kemungkinan tertutup tinta yang mulai mongering. Untuk mengetes hasil cetakan apakah masih belum maksimal atau sudah pilih Print Head Alignment. Untuk mengganti cartridge tinta, pilih Ink Cartridge Replacement. Jika kertas hasil cetak terlihat kotor, klik paper Guide Cleaning. Klik OK.

Jika dalam peng-copy-an halaman cetak, kertas ingin dicetak berurutan untuk tiap eksemplar copy-an, maka Anda harus membubuhkan tanda centang (v) pada Collate, misalnya Anda akan mencetak halaman 1-5 dengan collate sebanyak 2 copy, maka halaman akan dicetak dengan urutan halaman 1,2,3,4,5 (1 set) dan 1,2,3,4,5 (untuk set yang lain). Tapi jika Anda ingin halaman dicetak dengan urutan 1,1,2,2,3,3,4,4,5,5 maka harus mengosongkan kotak Collate
 





Gbr 7


7.   Jika sudah selesai Anda melakukan penyetingan pada Print Properties, Klik tab OK (lingkaran No. 8)

8.         Tampilan pencetakan (printing) ditampilkan sebagai berikut:



Gbr 8

9.   Jika tampilan di atas bermasalah, biasanya di printer akanm muncul lampu Resume (merah), silahkan ditekan tombol resume 2 kali sampai head print chamber (tempat cartridge) berada di posisi tengah, tekan bagian reset (bagian kecil putih di dekat cartridge). Lalu tekan 1 kali lagi tombol resume, lalu tekan tombol reset dan tekan lagi tombol resume sampai head print bergerak melakukan head cleaning (membersihkan head print). Setelah selesai lampu resume akan mati, dan printer siap mencetak kembali.

10. Jika Anda ingin membatalkan pencetakan yang sedang berlangsung, maka Anda perlu membuka tampilan status printing dengan mengklik ikon printing  di taskbar (bagian bawah kanan layar window.  
 


Gbr 9

Klik menu Printer, lalu pilih cancel all documents, lalu klik OK, maka komputer akan memutus dan membatalkan semua proses / kegiatan pencetakan.

Selamat mencoba.
 

Jumat, 07 September 2012

Enam Cara untuk mengakali Penundaan


Alfaqih Warsono

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat kiriman rutin motivasi dari  Jason M. Gracia
(Pendiri, www.Motivation123.com)

Beliau memberikan nasihat, katanya :  Orang Spanyol memiliki pepatah, yaitu: "Besok seringkali menjadi
hari tersibuk dalam seminggu." Demikian kata sang pujangga Spanyol tersebut.

Kita semua seringkali menunda-nunda dalam sesuatu hal. Kita sering membuang waktu dan menunda dan sering lengah terhadap berbagai kesempatan yang membenatng di hadapan kita.
Lantai kantor dan rumah saya masih penuh dengan tumpukan kertas pengajuan dua bulan yang lalu. Saya sedang menunggu mereka untuk berhenti buang waktu dan mengajukan diri, katanya.

Apapun tugas dan apapun alasannya, tips di bawah ini akan membantu Anda untuk Anda bisa lakukan pada hari ini apa yang kebanyakan orang suka menundanya hingga bulan depan.

  1. Tanyakan pada diri sendiri, Apa termasuk orang yang suka menunda-nunda kesempatan?
    Orang terkadang menunda-nunda karena berbagai alasan.
    Ada yang karena takut gagal. Ada yang beralasan untuk menghindari pekerjaan yang
    membosankan. Ada pula yang karena untuk terhindar dari keterawud-awudan (misalnya, tumpukan kertas saya). Dengan mengetahui penyebab masalahnya, diharapkan dapat membuka mata Anda untuk mencari solusi yang jelas dan tepat.
  2. Apakah Anda perlu melakukannya? Pertanyaan sederhana, tapi itu sesatu yang baik. Kadang-kadang kita meletakkan sesuatu dengan tidak pernah diungkit-ungkit lagi karena itu mungkin dianggap tidak begitu penting. Jika Anda tidak benar-benar perlu untuk melakukannya, bebaskan diri dari beban mental dan tinggalkan tugas dari Anda untuk sementara waktu, tapi bukan untuk dirutinkan dan tidak pula untuk dijadikan alasan kemalasan.
  3. Meminta bantuan. Saya memiliki mekanisme jendela kuno yang mengambil upaya operator jembatan untuk membukanya. Secara mengejutkan, pada bulan lalu, jendela itu pecah. Dan seseorang harus memperbaikinya, namun saya berharap bahwa "seseorang" itu adalah bukan "aku". Jadi saya menundanya. Setelah berminggu-minggu menatap jendela tanpa benar-benar melakukan apapun, saya meminta seorang teman untuk membantu. Hal itu bukan hanya karena saya tidak memiliki keterampilan mekanik melaikna juga tidak terkoordinasi, saya tahu itu akan membuat saya ikut termotivasi karenanya.
  4. Komit hanya lima menit.
    Itu saja - hanya 300 detik.
    Katakan bahwa diri Anda hanya perlu melakukan sesuatu untuk beberapa waktu saja. Ini akan mampu mengubah pekerjaan besar menjadi masalah kecil: Lima menit? Saya bisa melakukan itu. Memang "memulai" adalah bagian yang paling sulit, namun ketahuilah bahwa setelah lima menit, Anda akan sering melakukannya terus laksana berselancar atau berkendara terus sampai ke finish.
  5. Fokus pada akhirnya.
    Berpikir tentang bagaimana Anda akan merasa ketika Anda telah melakukan apa saja yang perlu dilakukan dapat memotivasi Anda untuk mewujudkannya. Tidak banyak waktu seperti untuk mengatur, tapi saya senang diatur. Ini adalah apa yang saya fokus pada perasaan memiliki segalanya di tempatnya, bersih dan rapi,  ketika saya perlu menata sebuah ruang. Meskipun tumpukan kertas saya membuktikan bahwa saya memiliki beberapa pekerjaan yang harus dilakukan. Namun keter-fokusan pada akhir/tujuan akan membuat pekerjaan akan terselesaikan sesuai jadwal.
  6. Just do it. (Lakukan saja)
    Berhenti mengulur-ulur.
    Berhenti rasionalisasi. Berdiri, berjalan ke "zona bahaya" (yakni tugas-tugas kita yang memang harus diselesaikan), dan mulai bekerja. Pasti Anda bisa.

Senin, 06 Agustus 2012

SYAITAN MAKAN DENGAN TANGAN KIRI


Muslim, Abu Daud dan At-Tirmidzy meriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda
إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ
Jika salah seorang diantara kalian makan, hendaklah makan dengan tangan kanannya dan jika minum hendaklah minum dengan tangan kanannya, karena syetan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya”.

Ibnu Abdil Barr berkata, “Didalam hadits ini terkandung dalil bahwa syetan juga makan dan minum. Ada sebagian orang yang menakwilkan hadits ini berdasarkan makna kiasan, bahwa makan dengan tangan kiri adalah sesuatu yang disukai syetan dan dia menyerukannya, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits tentang warna merah yang menjadi hiasan syetan. Yang dimaksud warna merah disini ialah merah mulus. [1]

Membaca Bismillah Mampu Mengusir Syetan Agar Tidak Ikut Mencicipi Makanan Manusia
Abu Daud mentakhrij dari Hudzaifah, dia berkata, “Jika kami mendatangi jamuan makan bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, maka tak seorangpun diantara kami meletakkan tangannya (pada makanan) hingga beliau memulainya. Ketika kami sedang menghadiri jamuan makan bersama beliau, tiba-tiba muncul seorang arab badui, yang sepertinya dia buru-buru dan langsung menjulurkan tangannya ke makanan. Maka beliau Shallallahu’alaihi wa sallam memegang tangan orang itu. Kemudian datang seorang budak wanita yang sepertinya buru-buru dan langsung menjulurkan tangan ke makanan, maka beliau memegang tangan budak itu seraya bersabda,

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ الَّذِى لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ جَاءَ بِهَذَا الأَعْرَابِىِّ يَسْتَحِلُّ بِهِ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ وَجَاءَ بِهَذِهِ الْجَارِيَةِ يَسْتَحِلُّ بِهَا فَأَخَذْتُ بِيَدِهَا فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّ يَدَهُ لَفِى يَدِى مَعَ أَيْدِيهِمَا

“Sesungguhnya syetan benar-benar menghalalkan makanan yang tidak disebut nama Allah padanya, dan sesungguhnya ia datang bersama orang Arab Badui ini untuk menghalalkannya, maka aku menahan tangannya, dan ia datang bersama budak wanita ini untuk menghalalkannya, maka aku menahan tangannya. Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, bahwa tangannya ada di tanganku bersama tangan kedua orang ini”. [2]
Abu Daud mentakhrij dari Umayyah bin Makhsyi dia berkata, ” Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sedang duduk, sementara di dekat beliau ada seorang laki-laki yang makan tanpa menyebut nama Allah. Ketika makannya tinggal satu suapan, maka dia mengucapkan ” Bismillahi awwalahu wa akhirahu “ sebelum memasukkannya ke mulut. Belaiu tersenyum lalu bersabda,
” Syetan senantiasa makan bersamanya, dan ketika dia menyebut Bismillah, maka syetan memuntahkan isi perutnya “.
At-Tirmidzy dan Al-Hakim mentakhrij dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam bersabda,
” Sesungguhnya syetan mendatangi seseorang di antara kalian dalam segala hal dari urusan, termasuk pula mendatangi makanannya. Jika ada satu suapan yang jatuh dari salah seorang di antara kalian, hendaklah dia membersihkan kotoran darinya kemudian hendaklah dia memakannya dan janganlah dia meninggalkannya bagi syetan “. [3]
Muslim dan Abu Daud mentakhrij dari Jabir, bahwa dia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
” Jika seseorang memasuki rumahnya lalu menyebut Bismillah ketika memasukinya dan ketika malam, maka syetan berkata (kepada rekan-rekannya), “Tidak ada tempat tinggal dan tidak ada makan malam bagi kalian”. Jika dia masuk tanpa menyebut Bismillah ketika masuk, maka syetan berkata, “Kalian mendapat tempat tinggal dan makan malam”.
Wallahu a’lam.


Footnote:
[1]. Yang dimaksud dengan hadits ini ialah, “Sesungguhnya syetan menyukai warna merah, maka jauhilah warna merah dan setiap pakaian untuk pamer”. (Hadits ini di takhrij Al-Hakim dari Rafi’ bin Yazid, tapi dha’if dan bathil)
[2]. Hadits ini juga di riwayatkan Muslim dan Al-Imam Ahmad.
[3]. Hadits ini juag di takhrij Muslim, Ibnu Majah, dan Al-Imam Ahmad

Pencuri Dalam Sholat?


Al Faqih Warsono




Sebutan “pencuri” adalah sebuah sebutan untuk perbuatan yang sangat buruk, yang harus dicegah. Mencuri adalah perbuatan dosa besar yang tidak boleh terjadi dan dilakukan oleh umat Islam. Pada sisi lain, sholat adalah sebuah aktivitas hamba Allah sebagai tanda syukur atas segala nikmat yang telah-sedang-dan akan diberikanNya, sebagai bukti seorang hamba sangat membutuhkan pertolongannya. Allah berfirman (lihat QS Albaqarah[2]:45:
وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ ﴿٤٥﴾
(Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’).

Dengan demikian sholat harus merupakan sebuah bentuk penghambaan yang ikhlash dan harus dikerjakan dengan sempurna. Jika dikerjakan dengan asal, apalagi “mencuri” maka sholat kita akan menjadi tidak sempurna. Lalu bagaimana jika ternyata kita dihukumi sebagai “pencuri” yang merupakan perbuatan yang tidak baik yang harus dihindari dalam melaksanakan sholat? Mencuri di dalam sholat maksudnya mencuri dengan melakukan ruku’ dan sujud yang tidak sempurna, cepat tanpa tuma’ninah (tenang). Tentu kita sangat “takut” akan hal ini, lalu kita perbaiki “mutu” sholat kita agar menjadi sempurna. Berikut keterangan tentang pencurian dalam ibadah sholat:

أَخْبَرْنَا الْحِكَمْ بِنْ مُوْسَى ثَنَا الْوَلِيْدُ بْنُ مُسْلِمْ عَنِ اْلأَوْزَاعِي عَنْ يَحْيَى بِنْ كَثِيْر عَنْ عَبْدِ الله بِنْ أَبِيْ قَتَادَة عَنْ أَبِيْهِ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَسْوَأُ النَّاسِ سِرْقَةٌ الَّذِيْ يَسْرُقُ صَلاَتَهُ قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرُقُ صَلاَتَهُ قَالَ لاَ يَتِمُّ رُكُوعُهَا ولاَ سُجُوْدُهَا

Beritahu kami Hakam bin Musa Tsana Walid bin Muslim dari Ouza’i dari Yahya bin Katsir dari Abdullah bin Abu Qatadah dari ayahnya berkata: Rasulullah saw bersabda: seburuk-buruk orang adalah pencuri yang mencuri shalatnya. Mereka berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana untuk mencuri shalatnya? Beliau menjawab: ia tidak sempurna dalam ruku’ (membungkuk) dan sujudnya. (HR Ad Daromiy: 1328)

Salah satu bagian terpenting dalam solat adalah tuma’ninah (anteng/tenang) baik dalam ruku, I’tidal, duduk antara dua sujud, maupun sujud, sekedar mengucap “subhanallah”. Itu adalah termasuk rukun (perkara dalam sholat yang tidak boleh tidak, tapi harus dipenuhi). Meninggalkan tuma’ninah adalah berarti merusak sholat, dan sholat “tidak sah”.

Tidak sempurnanya ruku’ dan sujud dalam sholat memberi petunjuk bahwa sholat dilakukan dalam keadaan tergesa-gesa (terburu-buru), tanpa tuma’ninah. Menghilangkan sebagian dari rukun sholat adalah dihukumi sama dengan pencuri (merampas sesuatu yang tidak seharusnya dirampas). Oleh karenanya, tenanglah dalam mengerjakan sholat, khusyu’lah dalam menghadap Allah SWT.  Bersungguh-sungguhlah. Ucapkan “tasbih” dalam ruku dan sujud sambil mengharap ridho Allah SWT.

Semoga shalat kita mendapat ridho Allah SWT

Pencuri Dalam Sholat


Al Faqih Warsono




Sebutan “pencuri” adalah sebuah sebutan untuk perbuatan yang sangat buruk, yang harus dicegah. Mencuri adalah perbuatan dosa besar yang tidak boleh terjadi dan dilakukan oleh umat Islam. Pada sisi lain, sholat adalah sebuah aktivitas hamba Allah sebagai tanda syukur atas segala nikmat yang telah-sedang-dan akan diberikanNya, sebagai bukti seorang hamba sangat membutuhkan pertolongannya. Allah berfirman (lihat QS Albaqarah[2]:45:
وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ ﴿٤٥﴾
(Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’).

Dengan demikian sholat harus merupakan sebuah bentuk penghambaan yang ikhlash dan harus dikerjakan dengan sempurna. Jika dikerjakan dengan asal, apalagi “mencuri” maka sholat kita akan menjadi tidak sempurna. Lalu bagaimana jika ternyata kita dihukumi sebagai “pencuri” yang merupakan perbuatan yang tidak baik yang harus dihindari dalam melaksanakan sholat? Mencuri di dalam sholat maksudnya mencuri dengan melakukan ruku’ dan sujud yang tidak sempurna, cepat tanpa tuma’ninah (tenang). Tentu kita sangat “takut” akan hal ini, lalu kita perbaiki “mutu” sholat kita agar menjadi sempurna. Berikut keterangan tentang pencurian dalam ibadah sholat:

أَخْبَرْنَا الْحِكَمْ بِنْ مُوْسَى ثَنَا الْوَلِيْدُ بْنُ مُسْلِمْ عَنِ اْلأَوْزَاعِي عَنْ يَحْيَى بِنْ كَثِيْر عَنْ عَبْدِ الله بِنْ أَبِيْ قَتَادَة عَنْ أَبِيْهِ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَسْوَأُ النَّاسِ سِرْقَةٌ الَّذِيْ يَسْرُقُ صَلاَتَهُ قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرُقُ صَلاَتَهُ قَالَ لاَ يَتِمُّ رُكُوعُهَا ولاَ سُجُوْدُهَا

Beritahu kami Hakam bin Musa Tsana Walid bin Muslim dari Ouza’i dari Yahya bin Katsir dari Abdullah bin Abu Qatadah dari ayahnya berkata: Rasulullah saw bersabda: seburuk-buruk orang adalah pencuri yang mencuri shalatnya. Mereka berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana untuk mencuri shalatnya? Beliau menjawab: ia tidak sempurna dalam ruku’ (membungkuk) dan sujudnya. (HR Ad Daromiy: 1328)

Salah satu bagian terpenting dalam solat adalah tuma’ninah (anteng/tenang) baik dalam ruku, I’tidal, duduk antara dua sujud, maupun sujud, sekedar mengucap “subhanallah”. Itu adalah termasuk rukun (perkara dalam sholat yang tidak boleh tidak, tapi harus dipenuhi). Meninggalkan tuma’ninah adalah berarti merusak sholat, dan sholat “tidak sah”.

Tidak sempurnanya ruku’ dan sujud dalam sholat memberi petunjuk bahwa sholat dilakukan dalam keadaan tergesa-gesa (terburu-buru), tanpa tuma’ninah. Menghilangkan sebagian dari rukun sholat adalah dihukumi sama dengan pencuri (merampas sesuatu yang tidak seharusnya dirampas). Oleh karenanya, tenanglah dalam mengerjakan sholat, khusyu’lah dalam menghadap Allah SWT.  Bersungguh-sungguhlah. Ucapkan “tasbih” dalam ruku dan sujud sambil mengharap ridho Allah SWT.

Semoga shalat kita mendapat ridho Allah SWT

Membunuh Orang Boleh atau Tidak?


Alfaqih Warsono


Dewasa ini banyak orang yang hanya karena sesuatu hal yang tidak sesuai dengan kemauannya atau karena kesal terhadap sesuatu, ia lalu tega membunuhnya. Ada saudara yang kesal dengan saudaranya yang lain, ia bunuh. Seorang ibu karena kesal dengan suaminya, anaknya dibunuh. Anak karena ia tidak dibelikan sepeda motor, orang tuanya dibunuh. Karena mempertahankan eksistensinya (bangga berkelompok) terakumulasi dengan membunuh siapa yang ia temui (Geng Motor). Karena takut ketahuan rahasianya oleh seseorang, maka ia pun dibunuhnya.

Dengan kata lain membunuh merupakan alat melampiaskan dendam, amarah, kesukaan, dan kebanggaan terhadap kelompok. Bahkan ada kelompok yang jika ia mampu membuniuh, ia akan merasa memiliki kebahagiaan tersendiri (psikopat) (lihat : Gejala-gejala psikopat. http://id.wikipedia.org/wiki/Psikopat ).

Pembunuhan pertama yang dilakukan umat manusia adalah pembunuhan yang dilakukan oleh Qabil bin Adam seperti dilukiskan dalam Al Quran surat Al Maidah [5]:30:
فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.”

Membunuh manusia dibolehkan dalam kasus : (1) qishash seperti  disebut dalam QS Al Maidah[5]: 45 “Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. “ (2) membalas serangan orang kafir seperti  disebut dalam QS Al Maidah [5]: 33 “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. ” (3) tidak sengaja.  

Untuk kasus yang ke-3 tersebut di atas pun harus melalui prosedur sebagai bentuk taubatnya, sebagai dijelaskan dalam QS An Nisa [4]: 92

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَن يَقْتُلَ مُؤْمِناً إِلاَّ خَطَئاً وَمَن قَتَلَ مُؤْمِناً خَطَئاً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلاَّ أَن يَصَّدَّقُواْ فَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ عَدُوٍّ لَّكُمْ وَهُوَ مْؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِّيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةً فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِّنَ اللّهِ وَكَانَ اللّهُ عَلِيماً حَكِيماً
Dan tidak layak bagi seorang mu'min membunuh seorang mu'min (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mu'min karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mu'min, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Sedangkan untuk kasus membunuh manusia secara sengaja dan pasti terencana, maka tidak ada balasan lain selain adzab siksa Neraka, seperti dijelaskan pada ayat berikutnya QS An Nisa [4] : 93
وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُّتَعَمِّداً فَجَزَآؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِداً فِيهَا وَغَضِبَ اللّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَاباً عَظِيماً
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.”

Bagaimana jika yang terbunuh itu orang mukmin yang ada alasannya (untuk dibunuh atau ikut terbunuh) secara sengaja, apakah dibenarkan seperti dengan illat “illa bil haqq” (kecuali dengan suatu alasan yang benar)? Seperti dalam QS Al Isra [17]:33
وَلاَ تَقْتُلُواْ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللّهُ إِلاَّ بِالحَقِّ
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. “

atau QS Al Furqan [25]: 68

وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ

“dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, “

Jawabannya adalah tetap saja tidak boleh, berdasarkan keterangan Ibnu Abbas ra. Seperti  tertuang dalam Mukhtashar Shahih Muslim, Darul Hadits, Al Qahirah, 2003, pada hadits no. 2132

عن سعيد بن جُبَيْر قال: قُلْتُ لابْنِ عَبَّاسٍ ر.ع.: أَلِمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا مِنْ تَوْبَةٍ ؟ قال: لاَ، قال: فَتَلَوْتُ عَلَيْهِ هَذِهِ الآيَةَ الَّتِيْ فِي الْفُرْقَانِ :{ وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ} إلى آخِرِ الآيَةِ، قال: هَذِهِ آيَةٌ مَكِيَّةٌ، نَسَخَتْهَا آيَةٌ مَدَنِيَّةٌ: { وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُّتَعَمِّداً فَجَزَآؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِداً فِيهَا}

Dari Said bin Jubair berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Abbas ra. : Apakah terdapat taubat bagi orang yang membunuh orang mukmin dengan sengaja? Ibnu Abbas menjawab: tidak ada. Aku (Said bin Jubair) berkata: Lalu aku bacakan ayat ini dalam Surat Al Furqan (QS Al Furqan [25]:68): “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar,” sampai akhir ayat. Ibnu Abbas ra menjawab : ini adalah ayat Makkiyah (turun lebih awal), sudah dinasakh (sudah dihapus) oleh ayat Madaniyyah (turun beriukutnya), yaitu: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya, “.

Bagaimana pula jika yang dibunuh itu bukan mukmin, non-muslim secara sengaja dan terencana. Jawabannya tetap saja tidak boleh dibunuh. Ini berdasarkan apa yang tersirat dalam asbabun Nuzul QS An Nisa [4]: 94, sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas ra. dalam Mukhtashar Shahih Muslim, Darul Hadits, Al Qahirah, 2003, pada hadits no. 2133
عن ابن عباس ر.ع. قال: لَقِيَ النَّاسُ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ رَجُلاً فِي غُنَيْمَةٍ لَهُ، فقال: السَّلاَمُ عَلَيْكُم، فَأَخَذُوْهُ فَقَتَلُوْهُ وَأَخَذُوْا تِلْكَ الْغُنَيْمَةَ، فَنَزَلَتْ : {وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلاَمَ لَسْتَ مُؤْمِناً} وَقَرَأَهَا ابنُ عَبَّاسٍ: {السَّلاَمَ}

Dari Ibnu Abbas ra berkata: orang-orang dari kaum muslimin menjumpai orang (laki-laki) dalam perkara barang rampasan perang ada padanya. Lalu orang itu mengucap salam: “Assalamu alaikum”. Kemudian orang-orang muslim menangkapnya dan membunuhnya lalu mengambil harta rampasan perang (miliknya) itu. Lalu turunlah ayat ke-94 dalam QS An Nisa [4] “janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan "salam" kepadamu: "Kamu bukan seorang mu'min" (lalu kamu membunuhnya),”

Ayat selengkapnya adalah: (QS An Nisa [4]:94) “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan "salam" kepadamu: "Kamu bukan seorang mu'min" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan ni`mat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”